Selasa, 23 Juni 2015

Nite and life

Dicurhatin oleh Dessy Mayangsari di Selasa, Juni 23, 2015 0 komentar

Malam ini rasanya capek sekali.
Sedih sekali
Mungkin karena sedang haid? Maybe.

Hanya berasa sedih, cape, dan ingin menangis saja.
Menjadi semakin tua terlalu melelahkan.
Mengerti bahwa tulus dan munafik itu hanya bersekat selembar kulit ari tipisnya.
Memahami bahwa bagaimanapun sakitnya harus tetap di hadapi, kecuali kau memilih mati.

Terimakasih untuk ruh ini, Tuhan
Maaf malam ini aku terlalu manja

Senin, 27 April 2015

Untuk yg selalu dirindukan .

Dicurhatin oleh Dessy Mayangsari di Senin, April 27, 2015 0 komentar

Baru aja pulang jalan sama Tari, sahabatku dari SMA.
Dijalan ngebahas makanan tiba2 kepengen makan baso (pentol sih kalo aku nyebutnya) di Kapuas . Iya di Kapuas tempat aku lahir terus tinggal sampai dengan lulus SMA.
Bodohnya, aku lupa apa nama jalan tempat orang jualan itu baso.
Padahal pas SMA sering banget beli disitu.
Nama kedai yg jualan juga lupa. Sidomoro? Sidomulyo? Ah entahlah. Aku lupa.

Iya aku lupa. Lucu ya...
Padahal tinggal 17 taun di kapuas.
Dengan gampangnya lupa.
Iya benar. Aku udah lama ga balik ke Kapuas.
Ada sih beberapa kali balik. Tapi pulang hari itu juga. Hanya beberapa jam di Kapuas.
Keliling Kapuas terus pulang kerumah beberapa jam.
Pulang ke rumah?
Kayak punya rumah aja ya . Haha :D
Ga seperti pulang kerumah.
Ga ada yg menanti aku pulang. Ga ada..
Cuma balik ambil uang jajan dan nengok keadaan rumah.
Tiduran di ruang tamu. Udah gitu aja.
Itu bisa disebut pulang.
Ngobrol sebentar sam papah, kemudian papah sibuk sendiri. Entah sama mainannya atau sama keluarga barunya.
Semacam aku pulang hanya untuk minta uang. Seperti asing.
Walaupun bermalam rasanya seperti menginap saja. Bukan pulang.
Ga ngerasa kaya rumah.
Terlalu asing... untuk aku.

4 bulan? 5 bulan? Atau 6 bulan? Atau lebih?
Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku nginap dirumah lagi.
Lupa kapan terakhir bermalam di rumah itu.
Aku lupa. Lupa sama sekali.

Betapa irinya sama iting, away, icha, atau siapapun itu yg bisa balik ke Kapuas kapanpun mau. 
Beruntung kalian masih bisa.
Bisa "pulang" kerumah. Bisa ngumpul sama keluarga.
Sepeti ga punya alasan apapun untuk balik ketempat itu.
Padahal hati ini pengen pulang,
Hati ini kangen,
Pengen lagi ngerasain bangun pagi terus keliling rumah ngeliatin mamah atau papah masih belum bangun tidur, diomelin gara2 ga nyapu, disuruh kewarung beli garam atau vetsin, disuruh cepat mandi, kangen juga ngaca di teras samping rumah, kangen rebutan nonton tv kalo malam, ngedengerin mamah nyetel tv yg nyiarin tausiyah islami, atau hanya sekedar ngumpul diruang tamu nungguin tukang bakpao lewat.
Kangen hal2 kecil seperti itu.
Ga ada lagi yg nanyain kapan balik ke Kapuas? Ga ada. Ga ada yg kangen aku mungkin.
Setiap orang pasti mikir senang jadi aku bebas, boleh kemana saja kemanapun aku mau.
Tau?
Aku terlalu iri pada kalian, aku juga pengen pulang. Pengen ada yg nyuruh aku pulang, nungguin aku dirumah. Pengen ngerasain tidur dirumah, pengen makan masakan mamah dirumah, pengen bobo depan tv, pengen denger papah mutar lagu rhoma irama, pengen dengar suara mamah nyanyi kalo lagi nonton dangdut, pengen ngumpul sama teman2 di ruang tamu atau teras rumah, pengen lagi ngumpul papah mamah ayuli nene diruang tamu. Pengen banget ....

Aku pengen pulang.
Aku pengen pulang.
Aku pengen pulang.

Tuhan, aku masih ga bosan meminta hal ini masih tetap berharap diantara ketidakmungkinan, masih berharap Kamu mengabulkannya.
"Boleh aku dikasih kesempatan ngumpul sama keluargaku lagi?"
"Boleh aku dikasih waktu sebentar saja untuk kembali ke masa aku masih bersama mereka? Setahun saja, atau sebulan juga boleh, seminggu, atau sehari saja, sejam pun boleh. Aku mohon Tuhan..."
Aku kangen, kangen sekali.
Aku pengen pulang.

Mah pah, ici lagi ngerjain pra sama laporan pkl. Bosan disini. Pengen pulang. Pengen bobo siang dirumah. Pengen makan sayur bening bikinan mamah, pengen jalan2 keliling kapuas. Ici bosan disini. Ici kd mau pulang ke handil bakti. Itu lain rumah ici. Lain rumah kita. Ici kd mau. . Ici maunya rumah kita..

Selasa, 31 Maret 2015

Dia yang Tak Pernah Tergantikan

Dicurhatin oleh Dessy Mayangsari di Selasa, Maret 31, 2015 0 komentar

Ini cerita di post di catatan FB waktu aku masih belum suka ngeblog.
Copast juga sih dari situs lain.
Tapi suka sekali.

Selamat membaca :)

Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah?
Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.
Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.

Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur.
Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, aku langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat!
Aku membuka selimut dan….. di sanalah sumber ‘masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!
Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anakku yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat: “Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie.
Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk aku..
Karena aku takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainanku… Aku minta maaf, Yah… “
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku … tetapi, aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku. Setelah beberapa lama, aku hampiri anakku, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.

Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya.
Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun… belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, aku benar-benar menyesal….
Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anakku absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer dengan gembira.
Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan.
Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku minta maaf, Ayah”. Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu…..

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahuku, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang aku yakin, jika istriku masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuatku bangga juga!

Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang… Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan …. tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon.
Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. Mereka menelponku dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anakku telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun aku sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : “Maaf, yah”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu. Setelah itu aku pergi ke kantor pos untuk mengambil surat surat tanpa alamat tersebut lalu pulang.
Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah :
“Surat-surat itu untuk Ibu…..”.
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. …. tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?”
Jawaban anakku itu : “Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”.
Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ….
Aku bilang pada anakku, “Nak, Ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk Ibu , cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada Ibu. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu. Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur……
‘Ibu sayang’, Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya. Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?

Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ….
sumber: http://aksesdunia.com/2012/diayang-takkan-pernah-tergantikan#ixzz1rF3njj6iaksesdunia.com

Jumat, 06 Maret 2015

Shit day .

Dicurhatin oleh Dessy Mayangsari di Jumat, Maret 06, 2015 0 komentar

Seperti merasa setiap orang dalam keluarga ini terlalu asyik dengan kehidupannya sendiri.
Saat aku punya masalah, aku bercerita, aku ingin dibantu.
Bukan melemparkanku kesana kemari seperti ini.
Hanya perlu sedikit perhatian dari kalian.
Mengapa terlalu asyik dg hidup kalian sendiri.
Aku juga perlu perhatian.
Tidak bisakah menjadi sedikit alasan untuk aku "pulang"?

Kalian menyebalkan.

Selasa, 10 Februari 2015

Narasumber : Mama .

Dicurhatin oleh Dessy Mayangsari di Selasa, Februari 10, 2015 0 komentar

Aku sedang menjenguk teman mamah disini.
Kata mamah. Ruang disebelah ruangan tante ini tempat kamu dirawat pas bayi dulu.
Ceritanya :
Waktu dulu aku umur 8 bulan, aku selalu dititipkan dirumah nenek setiap pagi bila mamah dan papah kerja.
Suatu waktu aku sakit. Ga bisa bernafas dan batuk.
Rupa rupanya batukku berdahak. Dahaknya itu membuat saluran pernafasan ku tersumbat. Tidak begitu paham sih apa nama penyakitnya.
Kemudian karena parah aku dibawa ke Rumah Sakit di kotaku untuk periksa. Ke bagian poli anak. Yg menjadi dokter anak saat itu adalah dr. Dody kata mamah.
Dari hasil diagnosanya aku menderita Bronchitis akut .
"Keluarga ibu ada yg menderita TBC ya? Knp anaknya sampai begini?" ucapan dr. Dody saat itu kata mamah.
"Ga ada dok. Saya juga gatau knp smpai begini" sahut mamah.
Kemudian aku diinfus. Karena aku bakat gendut dari kecil, sangat susah mencari nadi (*eh bener ga ya?) untuk dimasukkan jarum infus. Di pergelangan tangan ga ada. Terus mereka ke pergelangan kaki ku. Karena bingung harus bagaimana lagi maka pergelangan kaki ku disayat untuk mencari nadinya. Dan saat itu darah merembes keluar dari pergelangan kaki ku.
Setelah itu hidungku dimasukkan selang untuk mengeluarkan dahaknya. Saat itu selang tsb dimasukkan sampai berdarah hidungku kata mamah.
Melihat ku tidak ada perubahan apapun papah memutuskan untuk merujuk ku ke Rumah Sakit Islam Bjm . Tapi dari pihak RS Kapuas tidak bisa mengeluarkan rujukan karena tidak ada persetujuan dokter.
Akhirnya Pak Made (dia ini tetanggaku pas kecil, anaknya sahabatku) mencari dr. Dody agar memberikan rujukan. Saat ditemui dr. Dody malahan sedang main badminton. Pak Made marah sekali saat itu.
Mulanya dr. Dody tidak mau. Tapi setelah diancam papah "Kalo anakku mati, mati jua km" (maaf bahasa banjar). Akhirnya dr. Dody memberikan rujukan ke RS Islam.
Aku dibawa menggunakan speed boat . Karena perjalanan lebih cepat menggunakan speed boat daripada mobil. Tidak menggunakan oksigen saat itu karena stok oksigen di RS tidak ada.
Kata mamah mereka seperti membawa mayat hidup saat itu karena aku tidak bisa bernafas saat itu.
Papah, mamah, nenek ga ada yang membawa baju ganti. Pak Made menyusul dg mobil.
Sesampainya di RS Islam perawatanku diserahkan kepada dr. Suryadi Anang. Dkter marah sekali kenapa aku dibegitukan padahal untuk mencari nadi bisa di kepala ataupun leher juga tidah harus sampai menyayat pergelangan kakiku . Dari hasil diagnosa dr. Suryadi Anang penyakitku adalah alegi udara dingin karena aku setiap pagi diantar ke tempat nenek sehingga membuatku menjadi radang pernafasan.
Setelah itu dimasukkan selang dari mulut ku utk mengeluarkan dahak. Dan dahaknya itu banyaaaaaak sekali kata mamah.
Setelah beberapa hari di rawat aku pun membaik.
Kenapa tidak sembuh?
Ya . Penyakit radang ini masih bertahan sampai sekarang. "dia" kambuh jika aku terlalu banyak minum es atau udara terlalu sering kena udara dingin.
Tapi bedanya sekarang karena paham harus seperti apa, aku bisa mengatasi supaya bisa mengeluarkan dahak ku.
Menyakitkan memang dahak yang seharusnya keluar dari mulut kadang harus aku keluarkan dari hidung. Walaupun kadang juga bisa dikeluarkan lewat mulut.

Terimakasih untuk semua pihak yg terlibat, yg merawat, yg berjasa.

Mengapa aku menulis ini?
Aku ga pengen lupa. Karena ini "jalan" aku untuk hidup .
Sayatan di pergelangan kaki ini jadi bukti. Berbekas.

Jumat, 23 Januari 2015

My favourite song ♡

Dicurhatin oleh Dessy Mayangsari di Jumat, Januari 23, 2015 0 komentar

This is my favourite song.
Want to know?
Check this :
Taylor Swift - Back To December: http://youtu.be/QUwxKWT6m7U

"How's life? Tell me how's ur family .. U've been good busier than ever, we small talk, work and the weather. Ur guard is up and I know why :') . I miss ur tanned skin, ur sweet smile, so good to me so right"

Selasa, 23 Juni 2015

Nite and life

Malam ini rasanya capek sekali.
Sedih sekali
Mungkin karena sedang haid? Maybe.

Hanya berasa sedih, cape, dan ingin menangis saja.
Menjadi semakin tua terlalu melelahkan.
Mengerti bahwa tulus dan munafik itu hanya bersekat selembar kulit ari tipisnya.
Memahami bahwa bagaimanapun sakitnya harus tetap di hadapi, kecuali kau memilih mati.

Terimakasih untuk ruh ini, Tuhan
Maaf malam ini aku terlalu manja

Senin, 27 April 2015

Untuk yg selalu dirindukan .

Baru aja pulang jalan sama Tari, sahabatku dari SMA.
Dijalan ngebahas makanan tiba2 kepengen makan baso (pentol sih kalo aku nyebutnya) di Kapuas . Iya di Kapuas tempat aku lahir terus tinggal sampai dengan lulus SMA.
Bodohnya, aku lupa apa nama jalan tempat orang jualan itu baso.
Padahal pas SMA sering banget beli disitu.
Nama kedai yg jualan juga lupa. Sidomoro? Sidomulyo? Ah entahlah. Aku lupa.

Iya aku lupa. Lucu ya...
Padahal tinggal 17 taun di kapuas.
Dengan gampangnya lupa.
Iya benar. Aku udah lama ga balik ke Kapuas.
Ada sih beberapa kali balik. Tapi pulang hari itu juga. Hanya beberapa jam di Kapuas.
Keliling Kapuas terus pulang kerumah beberapa jam.
Pulang ke rumah?
Kayak punya rumah aja ya . Haha :D
Ga seperti pulang kerumah.
Ga ada yg menanti aku pulang. Ga ada..
Cuma balik ambil uang jajan dan nengok keadaan rumah.
Tiduran di ruang tamu. Udah gitu aja.
Itu bisa disebut pulang.
Ngobrol sebentar sam papah, kemudian papah sibuk sendiri. Entah sama mainannya atau sama keluarga barunya.
Semacam aku pulang hanya untuk minta uang. Seperti asing.
Walaupun bermalam rasanya seperti menginap saja. Bukan pulang.
Ga ngerasa kaya rumah.
Terlalu asing... untuk aku.

4 bulan? 5 bulan? Atau 6 bulan? Atau lebih?
Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku nginap dirumah lagi.
Lupa kapan terakhir bermalam di rumah itu.
Aku lupa. Lupa sama sekali.

Betapa irinya sama iting, away, icha, atau siapapun itu yg bisa balik ke Kapuas kapanpun mau. 
Beruntung kalian masih bisa.
Bisa "pulang" kerumah. Bisa ngumpul sama keluarga.
Sepeti ga punya alasan apapun untuk balik ketempat itu.
Padahal hati ini pengen pulang,
Hati ini kangen,
Pengen lagi ngerasain bangun pagi terus keliling rumah ngeliatin mamah atau papah masih belum bangun tidur, diomelin gara2 ga nyapu, disuruh kewarung beli garam atau vetsin, disuruh cepat mandi, kangen juga ngaca di teras samping rumah, kangen rebutan nonton tv kalo malam, ngedengerin mamah nyetel tv yg nyiarin tausiyah islami, atau hanya sekedar ngumpul diruang tamu nungguin tukang bakpao lewat.
Kangen hal2 kecil seperti itu.
Ga ada lagi yg nanyain kapan balik ke Kapuas? Ga ada. Ga ada yg kangen aku mungkin.
Setiap orang pasti mikir senang jadi aku bebas, boleh kemana saja kemanapun aku mau.
Tau?
Aku terlalu iri pada kalian, aku juga pengen pulang. Pengen ada yg nyuruh aku pulang, nungguin aku dirumah. Pengen ngerasain tidur dirumah, pengen makan masakan mamah dirumah, pengen bobo depan tv, pengen denger papah mutar lagu rhoma irama, pengen dengar suara mamah nyanyi kalo lagi nonton dangdut, pengen ngumpul sama teman2 di ruang tamu atau teras rumah, pengen lagi ngumpul papah mamah ayuli nene diruang tamu. Pengen banget ....

Aku pengen pulang.
Aku pengen pulang.
Aku pengen pulang.

Tuhan, aku masih ga bosan meminta hal ini masih tetap berharap diantara ketidakmungkinan, masih berharap Kamu mengabulkannya.
"Boleh aku dikasih kesempatan ngumpul sama keluargaku lagi?"
"Boleh aku dikasih waktu sebentar saja untuk kembali ke masa aku masih bersama mereka? Setahun saja, atau sebulan juga boleh, seminggu, atau sehari saja, sejam pun boleh. Aku mohon Tuhan..."
Aku kangen, kangen sekali.
Aku pengen pulang.

Mah pah, ici lagi ngerjain pra sama laporan pkl. Bosan disini. Pengen pulang. Pengen bobo siang dirumah. Pengen makan sayur bening bikinan mamah, pengen jalan2 keliling kapuas. Ici bosan disini. Ici kd mau pulang ke handil bakti. Itu lain rumah ici. Lain rumah kita. Ici kd mau. . Ici maunya rumah kita..

Selasa, 31 Maret 2015

Dia yang Tak Pernah Tergantikan

Ini cerita di post di catatan FB waktu aku masih belum suka ngeblog.
Copast juga sih dari situs lain.
Tapi suka sekali.

Selamat membaca :)

Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah?
Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.
Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.

Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur.
Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, aku langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat!
Aku membuka selimut dan….. di sanalah sumber ‘masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!
Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anakku yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat: “Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie.
Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk aku..
Karena aku takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainanku… Aku minta maaf, Yah… “
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku … tetapi, aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku. Setelah beberapa lama, aku hampiri anakku, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.

Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya.
Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun… belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, aku benar-benar menyesal….
Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anakku absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer dengan gembira.
Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan.
Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku minta maaf, Ayah”. Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu…..

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahuku, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang aku yakin, jika istriku masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuatku bangga juga!

Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang… Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan …. tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon.
Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. Mereka menelponku dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anakku telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun aku sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : “Maaf, yah”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu. Setelah itu aku pergi ke kantor pos untuk mengambil surat surat tanpa alamat tersebut lalu pulang.
Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah :
“Surat-surat itu untuk Ibu…..”.
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. …. tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?”
Jawaban anakku itu : “Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”.
Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ….
Aku bilang pada anakku, “Nak, Ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk Ibu , cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada Ibu. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu. Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur……
‘Ibu sayang’, Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya. Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?

Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ….
sumber: http://aksesdunia.com/2012/diayang-takkan-pernah-tergantikan#ixzz1rF3njj6iaksesdunia.com

Jumat, 06 Maret 2015

Shit day .

Seperti merasa setiap orang dalam keluarga ini terlalu asyik dengan kehidupannya sendiri.
Saat aku punya masalah, aku bercerita, aku ingin dibantu.
Bukan melemparkanku kesana kemari seperti ini.
Hanya perlu sedikit perhatian dari kalian.
Mengapa terlalu asyik dg hidup kalian sendiri.
Aku juga perlu perhatian.
Tidak bisakah menjadi sedikit alasan untuk aku "pulang"?

Kalian menyebalkan.

Selasa, 10 Februari 2015

Narasumber : Mama .

Aku sedang menjenguk teman mamah disini.
Kata mamah. Ruang disebelah ruangan tante ini tempat kamu dirawat pas bayi dulu.
Ceritanya :
Waktu dulu aku umur 8 bulan, aku selalu dititipkan dirumah nenek setiap pagi bila mamah dan papah kerja.
Suatu waktu aku sakit. Ga bisa bernafas dan batuk.
Rupa rupanya batukku berdahak. Dahaknya itu membuat saluran pernafasan ku tersumbat. Tidak begitu paham sih apa nama penyakitnya.
Kemudian karena parah aku dibawa ke Rumah Sakit di kotaku untuk periksa. Ke bagian poli anak. Yg menjadi dokter anak saat itu adalah dr. Dody kata mamah.
Dari hasil diagnosanya aku menderita Bronchitis akut .
"Keluarga ibu ada yg menderita TBC ya? Knp anaknya sampai begini?" ucapan dr. Dody saat itu kata mamah.
"Ga ada dok. Saya juga gatau knp smpai begini" sahut mamah.
Kemudian aku diinfus. Karena aku bakat gendut dari kecil, sangat susah mencari nadi (*eh bener ga ya?) untuk dimasukkan jarum infus. Di pergelangan tangan ga ada. Terus mereka ke pergelangan kaki ku. Karena bingung harus bagaimana lagi maka pergelangan kaki ku disayat untuk mencari nadinya. Dan saat itu darah merembes keluar dari pergelangan kaki ku.
Setelah itu hidungku dimasukkan selang untuk mengeluarkan dahaknya. Saat itu selang tsb dimasukkan sampai berdarah hidungku kata mamah.
Melihat ku tidak ada perubahan apapun papah memutuskan untuk merujuk ku ke Rumah Sakit Islam Bjm . Tapi dari pihak RS Kapuas tidak bisa mengeluarkan rujukan karena tidak ada persetujuan dokter.
Akhirnya Pak Made (dia ini tetanggaku pas kecil, anaknya sahabatku) mencari dr. Dody agar memberikan rujukan. Saat ditemui dr. Dody malahan sedang main badminton. Pak Made marah sekali saat itu.
Mulanya dr. Dody tidak mau. Tapi setelah diancam papah "Kalo anakku mati, mati jua km" (maaf bahasa banjar). Akhirnya dr. Dody memberikan rujukan ke RS Islam.
Aku dibawa menggunakan speed boat . Karena perjalanan lebih cepat menggunakan speed boat daripada mobil. Tidak menggunakan oksigen saat itu karena stok oksigen di RS tidak ada.
Kata mamah mereka seperti membawa mayat hidup saat itu karena aku tidak bisa bernafas saat itu.
Papah, mamah, nenek ga ada yang membawa baju ganti. Pak Made menyusul dg mobil.
Sesampainya di RS Islam perawatanku diserahkan kepada dr. Suryadi Anang. Dkter marah sekali kenapa aku dibegitukan padahal untuk mencari nadi bisa di kepala ataupun leher juga tidah harus sampai menyayat pergelangan kakiku . Dari hasil diagnosa dr. Suryadi Anang penyakitku adalah alegi udara dingin karena aku setiap pagi diantar ke tempat nenek sehingga membuatku menjadi radang pernafasan.
Setelah itu dimasukkan selang dari mulut ku utk mengeluarkan dahak. Dan dahaknya itu banyaaaaaak sekali kata mamah.
Setelah beberapa hari di rawat aku pun membaik.
Kenapa tidak sembuh?
Ya . Penyakit radang ini masih bertahan sampai sekarang. "dia" kambuh jika aku terlalu banyak minum es atau udara terlalu sering kena udara dingin.
Tapi bedanya sekarang karena paham harus seperti apa, aku bisa mengatasi supaya bisa mengeluarkan dahak ku.
Menyakitkan memang dahak yang seharusnya keluar dari mulut kadang harus aku keluarkan dari hidung. Walaupun kadang juga bisa dikeluarkan lewat mulut.

Terimakasih untuk semua pihak yg terlibat, yg merawat, yg berjasa.

Mengapa aku menulis ini?
Aku ga pengen lupa. Karena ini "jalan" aku untuk hidup .
Sayatan di pergelangan kaki ini jadi bukti. Berbekas.

Jumat, 23 Januari 2015

My favourite song ♡

This is my favourite song.
Want to know?
Check this :
Taylor Swift - Back To December: http://youtu.be/QUwxKWT6m7U

"How's life? Tell me how's ur family .. U've been good busier than ever, we small talk, work and the weather. Ur guard is up and I know why :') . I miss ur tanned skin, ur sweet smile, so good to me so right"

 

@dcydsy Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Celebrity Gossip