Aku sangat senang menulis.
Saat menulis rasanya semua yang tidak bisa ku katakan bisa tersampaikan.
Entah kepada siapa.
Aku hanya ingin bercerita.
Melalui omongan?
Jangan berharap...
Aku kadang menemui orang yang bisa ku ajak bercerita,
Tapi aku takut.
Bukan takut dengan kemungkinan dia bercerita pada orang lain.
Aku takut aku akan menjadi beban.
Bercerita kepada tempat tak bertuan itu menyenangkan.
Aku hanya perlu sesuatu yang menjadi pendengar.
Terkadang, saat menulis aku memikirkan pacar, teman, sahabat, kakak, mamah ataupun papah .
Orang orang yang mengisi hidupku.
Merasakan sakit itu penting.
Agar saat kita menghadapi suatu masalah, kita bisa berpikir kembali...
"Bukannya kamu pernah merasakan sakit lebih dari ini? Seharusnya kamu kuat seharusnya kamu bisa ! Bersemangatlah ! "
Setidaknya itu pemikiranku.
Orang orang terdekat itu adalah sumber "kesakitan" yang paling utama.
Pacar?
Oh bukan. Walaubkadang menyakiti aku masih bisa mengatasinya.
Keluarga? Ya.
Jangan kaget..
Aku tidak pernah membenci keluargaku. Sedikitpun.
Aku menyayangi mereka. Teramat sayang. :)
Dari kecil aku sangat dekat dengan papah. Baru mamah kemudian kakakku.
Karena 'dekat', itu malah menyakitiku.
SD, SMP, SMA. Aku selalu menghadapi Ujian Nasional sendiri.
Waktu SD mamah ada kerjaan keluar kota. Padahal saat itu aku sangat memerlukannya. Papah sibuk bekerja saat itu. Dan aku tidak dekat dengan kakakku.
Waktu SMP nenek dan kakakku masuk rumah sakit. Lagi lagi aku sendirian. Mamah menunggui kakak dan nenek di RS. Sedangkan papah bolak balik BJM Kapuas mengurusi administrasi RS. Dia kerja keras buat membiayai pengobatan kakak dan nenek.
Saat SMA. Ini yang paling tidak bisa aku terima.
Orangtuaku pisah rumah.
Ya. Mereka pisah rumah disaat aku aku akan menghadapi UN. Aku masih ingat betul mamah mngangkut barang2nya saat H-2 UN.
Saat itu mamah bilang denganku "mamah pindah dulu lah, baik baik belajar. Mamah nanti bakalan sering nelpon".
Aku dipeluk mamah dan papah ada disebelahku.
Susah payah aku ngomong
"Ici masih boleh ketemu mamah kan? Masih bolehkan?"
Mamah bilang "Boleh, boleh sekali. Nanti mamah bakalan sering nelpon, sering jenguk"
Aku tau papah saat itu juga sedih.
Tapi itu sudah menjadi pilihan mereka berdua.
Aku bisa apa?
Apa aku boleh mempertahankan sesuatu yang akan malah menyakiti mereka? Bukannya itu malah memaksakan "hati" mereka?
Dan sekali lagi aku harus melalui UN tanpa mamah. Sedih sekali.
Aku sering
bertanya dalam hati.
Papah sama
mamah ga sayang aku lagi?
Ga sayang
ayuli lagi?
Kenapa
meninggalkan aku?
Boleh aku
bilang jangan pergi? Jangan berpisah. Jangan meninggalkan aku. Aku mohon..
mohon sekali..
Seiring berjalannya
waktu aku mencoba.. ya aku mencoba menerima bahwa aku tidak berhak memaksa
sepasang manusia bertahan hanya atas nama “anak”.
Aku ingat
pertama kali aku mengunjungi rumah mamah. Mamah sangat senang sekali.
Berusaha tersenyum
adalah hal paling ku benci saat itu.
Ini bukan
rumahku, disini ga ada kenangan papah mamah dan ayuli. Pikirku saat itu.
Ayahku.
Dia orang
yang sangat ku sayang.
Dan tanpa
dipungkiri, kehilangan seseorang yang telah mendampingi selama 24 tahun itu
sangat menyakitkan.
Papah terlihat
berantakan. Dia tidak cukuran, terlihat lesu, dan jelek sekali.
Selayaknya lelaki
yang sudah menikah ia tentunya tahu apa itu “nafkah bathin”.
Aku berpikir,
cepat atau lambat ia pasti akan mencari pendamping yang baru lagi.
Mungkin akan
lebih cepat daripada mamah.
Karena dulu
waktu SD papah pernah menduakan mamah, dengan menikah dengan seorang perempuan
jalang.
Perempuan itu
suatu ketika sakit dan papah membawanya kerumah.
Ya . kerumah
dimana ada aku, mamah, dan ayuli.
Dia bermalam
beberapa minggu dirumah. Dan mamah sangat bersabar saat itu.
Bodohnya aku
yang belum mengerti apa itu “Perusak Hubungan”, sangat senang dengan
kehadirannya. Karena dia memanjakanku.
Kuakui dulu
mamah sangat suka marah marah dan tidak terlalu dekat denganku. Sewajarnya anak
kecil, aku sangat tidak suka dimarahi.
Saat aku SMP
aku baru sadar betapa bodohnya aku yang bahkan sempat menangis saat “Ibu tiri-ku”
itu pergi. Bodoh sekali. Sangat bodoh.
Sampai akhirnya
papah bercerai dengan wanita itu, mamah masih setia bersama papah. Mungkin itu
karena kami. Anaknya yang masih kecil.
Kembali lagi...
Rasanya saat
itu dua bulan atau 3 bulan menjelang pernikahan kakakku papah meminta aku dan
kakakku untuk berbicara bertiga di ruang tamu.
“Papah ga
mau bohong. Mungkin Yuli atau Dessy sudah tahu apa yang akan papah omongkan.
Papah sudah menikah lagi dengan perempuan bernama Ira. Kemaren malam di
banjarmasin.”
Aku memang
tau .. ya aku ada mendengar sedikit dari mamah .. bahwa papah menikah lagi. Tapi
aku tidak sesiap itu. Aku tidak siap mendengarnya langsung dari papahku.
Aku cuma bisa
terdiam. Otakku terlalu penuh untuk mencerna semuanya.
Kakakku?
Dia mengamuk.
Dia marah sekali. Sangat marah pada papahku.
Aku lupa apa
yang dia katakan sampai mebuat papah marah dan memukulnya. Saat papah akan
memukulnya lagi aku langsung memegang tangan papah.
“Jangan
pukul ayuli lagi, pukul ici ja.”
Dan mungkin
papah kembali kesadarannya. Dia pun pergi dan duduk di teras samping rumah
sambil merokok.
Saat itu
ayuli masih mengamuk. Dan mamah yang mungkin di telpon nenek langsung datang
kerumah sambil menangis. Aku ingin menangis sekeras kerasnya saat itu.
Tapi bila
aku menangis, apa jadinya kakakku?
Tidakkah dia
tambah sedih.
Jika dia
tidak kuat, akulah yang harus menguatkannya. Pikirku saat itu.
Aku langsung
mengambil kunci motor dan cumabilang ingin ketempat teman.
Ya untuk
kesekian kalinya aku menangis di sepanjang jalan.
Aku tidak
pernah bercerita apapun pada Isti, Away, Icha, maupun Rudy.
Tapi pada
saat itu aku langsung menelpon Rudy dan cuma bisa bilang “Papahku nikah lagi,
papahku nikah lagi, papahku nikah lagi rud...”
Setelah itu
aku menelpon iting dan mengabarkan bahwa papahku menikah lagi.
Maka dari itu
Isti dan Rudy tuh sahabatku. Orang yang
pertama kali ku beritahu hal yang paling menyakitiku.
Setelah puas
menangis aku pulang. Kakakku sudah dibawa mamah kerumah barunya. Yang aku tau
kakakku sempat pingsan saat aku tidak dirumah. Mungkin karena terlalu shock.
Rasanya 3
minggu atau 2 minggu setelah kejadian itu kakakku baru pulang lagi kerumah
papah.
Dengan perjanjian
papah tidak boleh mengajak “wanita” itu kerumah.
Singkat
cerita kakakku menikah. Dia tetap tinggal dirumah papah bersama suaminya.
Sedangkan papah
dia lebih sering kerumah istrinya.
Aku? Aku
menyibukkan diri dengan urusan kuliahku. Seperti melarikan diri memang.
Suatu ketika
kakakku bertengkar lagi dengan ayahku. Aku lupa karena apa awalnya.
Yang aku
ingat ayuli merasa papah sangat keterlaluan saat pernikahannya mengundang “wanita”
itu untuk datang. Papah melanggar janjinya.
Dan ayuli
memutuskan untuk pindah ketempat suaminya. Dan mulai saat itu hingga sekarang
ayuli bermusuhan dengan papah.
Ya keluargaku
hancur. Sedih sekali...
Saat dikabarkan
hal itu aku cuma bisa bilang “Oh...”.
Dirumah
hanya tinggal nenek dan mamah seringkali menjenguk nenek.
Aku? Saat itu
aku terlalu sibuk dengan kegiatan organisasi. Terlalu sibuk untuk melupakan
kenyataan.
Sampai akhirnya
nenek pindah ikut dengan mamah karena terlalu kesepian sendiri dirumah.
Tapi masih
seminggu 2x pulang kerumah papah untuk membantu membersihkan rumah.
Pernah aku
pulang kerumah papah dan melihat rumahku itu halamannya di tumbuhi rumput
dengan lebat, banyak tikus, kotor. Ya layaknya rumah tak berpenghuni.
Cepat atau
lambat papah pasti akan pindah kerumah ini pikirku.
Dan benar.
Saat itu aku
bermalam dirumahku itu, dan papah datang. Ia menanyakan kabarku, tentang
kuliahku, dan pada akhirnya bilang “Papah sama tante Ira akan pindah kerumah
ini, daripada rumah ini terbengkalai dan hancur sia-sia. 4 tahun masih dessy
kuliah, 4 tahun itu waktu yang cukup lama. Mungkin 2 hari lagi papah pindah.”
Aku sangat
ingin bilang jangan. Tapi mana bisa. Notabene ini adalah rumah papahku dan aku
masih harus melanjutkan study ku.
Malam itu
malam terakhir aku tidur “dirumahku”. Dirumah yang ada kenangan tentang papah,
mamah, ayuli, dan aku. Aku berkeliling rumah sampai capek. Melihat sekeliling
rumah, ruangan ruangan, letak benda benda, menghirup udaranya, menangis
sejadinya. Aku ingin mengingat sebanyak
banyaknya. Mengingat bahwa tempat ini adalah “rumah”.
Singkat kata
papah pindah kerumah. Dan aku jadi sangat jarang pulang kerumah itu.
Bagaimana bisa
aku pulang ketempat yang ada”orang lain”.
Papah itu
sangat memanjakanku, sangat sayang padaku.
Dia tidak
pernah marah apalagi sampai memukulku.
Suatu ketika
mamah mengangkut karpet yang memang kurasa itu hak milik mamah karena dia yang
membelinya dan lagi dirumah mamah tidak ada apa apa.
Dan papah
tidak mengetahuinya karena saat itu dia tidak dirumah.
Sorenya
papah tahu bahwa karpet itu tidak ada. Dan dia marah padaku karena aku tidak
bilang apa apa padanya.
Kuakui itu
salahku. Tapi saat itu aku beranggapan yang angkut kan mamahku juga buat apa
bilang, toh gak papa juga. Dan pada kenyataannya malah apa apa .
Itu pertama
kalinya papah marah besar padaku.
Entah kenapa
saat itu dia berkata “Kamu milih ikut papah atau mamah? Kalau kamu ikut papah
kamu tidak boleh lagi ketempat mamah dan sebaliknya. Papah gapapa kalau harus
kehilangan satu anak lagi.”
Aku berkata
aku ga bisa milih, papah dan mamah orang tuaku. Tidak ada pilihan. Dan aku tidak
akan memilih.
Aku sangat
ingat papah melemparkan puntung rokoknya kepadaku. Aku tau rokoknya sudah mati.
Tapi perlakuannya
itu yang membuatku sakit hati. Sangat sakit hati...
Bagaimana bisa
orang yang bahkan tidak pernah memarahiku menjadi orang yang sejahat ini..
Dan akupun
langsung pergi dan aku bilang aku kebanjarmasin. Tanpa jaket, tanpa sarung
tangan, aku langsung ke banjarmasin. Dan lagi lagi aku menangis sepanjang
jalan.
Ulang tahun
terindah saat 2012 kemarin. Saat aku masuk rumah sakit dan saat itu papah,
mamah, ayuli ada disisiku. Papah pagi pagi ke kamar rawat dan mengahabiskan
waktu bersamaku pagi itu.
Saat ulang
tahun di 2012 aku hanya berharap semoga papah dan mamah bisa rujuk lagi.
Tapi tahun
2013 ini aku tau itu mustahil, permintaanku hanya semoga papah, mamah, dan
ayuli bahagia dan sehat selalu.
Pah, ici
kangen papah..
Kangen sekali.
Bisakah
mengelus rambutku lagi sampai aku tertidur?
Aku menyayangimu, selama lamanya. :*