Rabu, 29 Januari 2014

Miss you again again agaiiin ~

Dicurhatin oleh Dessy Mayangsari di Rabu, Januari 29, 2014 0 komentar

29 januari 2014.
Sore tadi ketemu papah .
Waktu papah antar uang mingguan ke kost.
Sangat disayangkan datangnya bareng tante ira.
Tapi waktu ketemu, papah kelihatannya bahagia.
Senang sekali melihatnya.
15 menit mungkin ngobrol ngobrol sama papah.
Tanya nilai, tanya kapan libur, kapan pulang....

Terus papah pulang.
Iya dia ke Banjarmasin cuma buat antar uang jajan anaknya biar bisa makan aja.

Kenapa ga pake atm?
Lebih mudah sebenarnya kalo pake atm.
Tapi ga mikir kygitu.
Kalo misal aku pake atm, nanti ga bisa lagi ketemu barang beberapa menit tiap minggu, ga bisa lagi cium tangannya, ga bisa lagi cium pipi kiri kanannya.

Setiap ketemu aku pasti menatap lebih lama, mendengarkan lebih seksama.
Seperti takut akan lupa
Takut suatu saat aku akan membenci
Ku harap tidak.

Aku hanya tidak ingin lupa.
Bagaimana dia berbicara, bagaimana dia bilang "baik-baik nak lah", bagaimana raut wajahnya, bagaimana dia tetap mencium pipi kiri kanan ku setiap pergi, dia yang tidak pernah bicara kasar padaku, tidak pernah menyebutku dengan sebutan anak nakal, bodoh, dan apapun itu kata kata kasar lainnya.

Merindukan serindu rindunya orang yang merindukan.
Hanya bisa mendoakan agar dia bahagia.

:'*

Minggu, 19 Januari 2014

Iloveyoupapah:* Always

Dicurhatin oleh Dessy Mayangsari di Minggu, Januari 19, 2014 0 komentar
Aku sangat senang menulis.
Saat menulis rasanya semua yang tidak bisa ku katakan bisa tersampaikan.
Entah kepada siapa.
Aku hanya ingin bercerita.
Melalui omongan?
Jangan berharap...
Aku kadang menemui orang yang bisa ku ajak bercerita,
Tapi aku takut.
Bukan takut dengan kemungkinan dia bercerita pada orang lain.
Aku takut aku akan menjadi beban.
Bercerita kepada tempat tak bertuan itu menyenangkan.
Aku hanya perlu sesuatu yang menjadi pendengar.
Terkadang, saat menulis aku memikirkan pacar, teman, sahabat, kakak, mamah ataupun papah .
Orang orang yang mengisi hidupku.
Merasakan sakit itu penting.
Agar saat kita menghadapi suatu masalah, kita bisa berpikir kembali...
"Bukannya kamu pernah merasakan sakit lebih dari ini? Seharusnya kamu kuat seharusnya kamu bisa ! Bersemangatlah ! "
Setidaknya itu pemikiranku.
Orang orang terdekat itu adalah sumber "kesakitan" yang paling utama.
Pacar?
Oh bukan. Walaubkadang menyakiti aku masih bisa mengatasinya.
Keluarga? Ya.
Jangan kaget..
Aku tidak pernah membenci keluargaku. Sedikitpun.
Aku menyayangi mereka. Teramat sayang. :)
Dari kecil aku sangat dekat dengan papah. Baru mamah kemudian kakakku.
Karena 'dekat', itu malah menyakitiku.
SD, SMP, SMA. Aku selalu menghadapi Ujian Nasional sendiri.
Waktu SD mamah ada kerjaan keluar kota. Padahal saat itu aku sangat memerlukannya. Papah sibuk bekerja saat itu. Dan aku tidak dekat dengan kakakku.
Waktu SMP nenek dan kakakku masuk rumah sakit. Lagi lagi aku sendirian. Mamah menunggui kakak dan nenek di RS. Sedangkan papah bolak balik BJM Kapuas mengurusi administrasi RS. Dia kerja keras buat membiayai pengobatan kakak dan nenek.
Saat SMA. Ini yang paling tidak bisa aku terima.
Orangtuaku pisah rumah.
Ya. Mereka pisah rumah disaat aku aku akan menghadapi UN. Aku masih ingat betul mamah mngangkut barang2nya saat H-2 UN.
Saat itu mamah bilang denganku "mamah pindah dulu lah, baik baik belajar. Mamah nanti bakalan sering nelpon".
Aku dipeluk mamah dan papah ada disebelahku.
Susah payah aku ngomong
"Ici masih boleh ketemu mamah kan? Masih bolehkan?"
Mamah bilang "Boleh, boleh sekali. Nanti mamah bakalan sering nelpon, sering jenguk"
Aku tau papah saat itu juga sedih.
Tapi itu sudah menjadi pilihan mereka berdua.
Aku bisa apa?
Apa aku boleh mempertahankan sesuatu yang akan malah menyakiti mereka? Bukannya itu malah memaksakan "hati" mereka?
Dan sekali lagi aku harus melalui UN tanpa mamah. Sedih sekali.



Aku sering bertanya dalam hati.
Papah sama mamah ga sayang aku lagi?
Ga sayang ayuli lagi?
Kenapa meninggalkan aku?
Boleh aku bilang jangan pergi? Jangan berpisah. Jangan meninggalkan aku. Aku mohon.. mohon sekali..

Seiring berjalannya waktu aku mencoba.. ya aku mencoba menerima bahwa aku tidak berhak memaksa sepasang manusia bertahan hanya atas nama “anak”.
Aku ingat pertama kali aku mengunjungi rumah mamah. Mamah sangat senang sekali.
Berusaha tersenyum adalah hal paling ku benci saat itu.
Ini bukan rumahku, disini ga ada kenangan papah mamah dan ayuli. Pikirku saat itu.

Ayahku.
Dia orang yang sangat ku sayang.
Dan tanpa dipungkiri, kehilangan seseorang yang telah mendampingi selama 24 tahun itu sangat menyakitkan.
Papah terlihat berantakan. Dia tidak cukuran, terlihat lesu, dan jelek sekali.
Selayaknya lelaki yang sudah menikah ia tentunya tahu apa itu “nafkah bathin”.
Aku berpikir, cepat atau lambat ia pasti akan mencari pendamping yang baru lagi.
Mungkin akan lebih cepat daripada mamah.
Karena dulu waktu SD papah pernah menduakan mamah, dengan menikah dengan seorang perempuan jalang.
Perempuan itu suatu ketika sakit dan papah membawanya kerumah.
Ya . kerumah dimana ada aku, mamah, dan ayuli.
Dia bermalam beberapa minggu dirumah. Dan mamah sangat bersabar saat itu.
Bodohnya aku yang belum mengerti apa itu “Perusak Hubungan”, sangat senang dengan kehadirannya. Karena dia memanjakanku.
Kuakui dulu mamah sangat suka marah marah dan tidak terlalu dekat denganku. Sewajarnya anak kecil, aku sangat tidak suka dimarahi.
Saat aku SMP aku baru sadar betapa bodohnya aku yang bahkan sempat menangis saat “Ibu tiri-ku” itu pergi. Bodoh sekali. Sangat bodoh.
Sampai akhirnya papah bercerai dengan wanita itu, mamah masih setia bersama papah. Mungkin itu karena kami. Anaknya yang masih kecil.
Kembali lagi...
Rasanya saat itu dua bulan atau 3 bulan menjelang pernikahan kakakku papah meminta aku dan kakakku untuk berbicara bertiga di ruang tamu.
“Papah ga mau bohong. Mungkin Yuli atau Dessy sudah tahu apa yang akan papah omongkan. Papah sudah menikah lagi dengan perempuan bernama Ira. Kemaren malam di banjarmasin.”
Aku memang tau .. ya aku ada mendengar sedikit dari mamah .. bahwa papah menikah lagi. Tapi aku tidak sesiap itu. Aku tidak siap mendengarnya langsung dari papahku.
Aku cuma bisa terdiam. Otakku terlalu penuh untuk mencerna semuanya.
Kakakku?
Dia mengamuk. Dia marah sekali. Sangat marah pada papahku.
Aku lupa apa yang dia katakan sampai mebuat papah marah dan memukulnya. Saat papah akan memukulnya lagi aku langsung memegang tangan papah.
“Jangan pukul ayuli lagi, pukul ici ja.”
Dan mungkin papah kembali kesadarannya. Dia pun pergi dan duduk di teras samping rumah sambil merokok.
Saat itu ayuli masih mengamuk. Dan mamah yang mungkin di telpon nenek langsung datang kerumah sambil menangis. Aku ingin menangis sekeras kerasnya saat itu.
Tapi bila aku menangis, apa jadinya kakakku?
Tidakkah dia tambah sedih.
Jika dia tidak kuat, akulah yang harus menguatkannya. Pikirku saat itu.
Aku langsung mengambil kunci motor dan cumabilang ingin ketempat teman.
Ya untuk kesekian kalinya aku menangis di sepanjang jalan.
Aku tidak pernah bercerita apapun pada Isti, Away, Icha, maupun Rudy.
Tapi pada saat itu aku langsung menelpon Rudy dan cuma bisa bilang “Papahku nikah lagi, papahku nikah lagi, papahku nikah lagi rud...”
Setelah itu aku menelpon iting dan mengabarkan bahwa papahku menikah lagi.
Maka dari itu Isti dan Rudy tuh sahabatku.  Orang yang pertama kali ku beritahu hal yang paling menyakitiku.
Setelah puas menangis aku pulang. Kakakku sudah dibawa mamah kerumah barunya. Yang aku tau kakakku sempat pingsan saat aku tidak dirumah. Mungkin karena terlalu shock.

Rasanya 3 minggu atau 2 minggu setelah kejadian itu kakakku baru pulang lagi kerumah papah.
Dengan perjanjian papah tidak boleh mengajak “wanita” itu kerumah.

Singkat cerita kakakku menikah. Dia tetap tinggal dirumah papah bersama suaminya.
Sedangkan papah dia lebih sering kerumah istrinya.
Aku? Aku menyibukkan diri dengan urusan kuliahku. Seperti melarikan diri memang.
Suatu ketika kakakku bertengkar lagi dengan ayahku. Aku lupa karena apa awalnya.
Yang aku ingat ayuli merasa papah sangat keterlaluan saat pernikahannya mengundang “wanita” itu untuk datang. Papah melanggar janjinya.
Dan ayuli memutuskan untuk pindah ketempat suaminya. Dan mulai saat itu hingga sekarang ayuli bermusuhan dengan papah.
Ya keluargaku hancur. Sedih sekali...
Saat dikabarkan hal itu aku cuma bisa bilang “Oh...”.

Dirumah hanya tinggal nenek dan mamah seringkali menjenguk nenek.
Aku? Saat itu aku terlalu sibuk dengan kegiatan organisasi. Terlalu sibuk untuk melupakan kenyataan.
Sampai akhirnya nenek pindah ikut dengan mamah karena terlalu kesepian sendiri dirumah.
Tapi masih seminggu 2x pulang kerumah papah untuk membantu membersihkan rumah.

Pernah aku pulang kerumah papah dan melihat rumahku itu halamannya di tumbuhi rumput dengan lebat, banyak tikus, kotor. Ya layaknya rumah tak berpenghuni.
Cepat atau lambat papah pasti akan pindah kerumah ini pikirku.
Dan benar.
Saat itu aku bermalam dirumahku itu, dan papah datang. Ia menanyakan kabarku, tentang kuliahku, dan pada akhirnya bilang “Papah sama tante Ira akan pindah kerumah ini, daripada rumah ini terbengkalai dan hancur sia-sia. 4 tahun masih dessy kuliah, 4 tahun itu waktu yang cukup lama. Mungkin 2 hari lagi papah pindah.”
Aku sangat ingin bilang jangan. Tapi mana bisa. Notabene ini adalah rumah papahku dan aku masih harus melanjutkan study ku.

Malam itu malam terakhir aku tidur “dirumahku”. Dirumah yang ada kenangan tentang papah, mamah, ayuli, dan aku. Aku berkeliling rumah sampai capek. Melihat sekeliling rumah, ruangan ruangan, letak benda benda, menghirup udaranya, menangis sejadinya.  Aku ingin mengingat sebanyak banyaknya. Mengingat bahwa tempat ini adalah “rumah”.

Singkat kata papah pindah kerumah. Dan aku jadi sangat jarang pulang kerumah itu.
Bagaimana bisa aku pulang ketempat yang ada”orang lain”.

Papah itu sangat memanjakanku, sangat sayang padaku.
Dia tidak pernah marah apalagi sampai memukulku.
Suatu ketika mamah mengangkut karpet yang memang kurasa itu hak milik mamah karena dia yang membelinya dan lagi dirumah mamah tidak ada apa apa.
Dan papah tidak mengetahuinya karena saat itu dia tidak dirumah.
Sorenya papah tahu bahwa karpet itu tidak ada. Dan dia marah padaku karena aku tidak bilang apa apa padanya.
Kuakui itu salahku. Tapi saat itu aku beranggapan yang angkut kan mamahku juga buat apa bilang, toh gak papa juga. Dan pada kenyataannya malah apa apa .
Itu pertama kalinya papah marah besar padaku.
Entah kenapa saat itu dia berkata “Kamu milih ikut papah atau mamah? Kalau kamu ikut papah kamu tidak boleh lagi ketempat mamah dan sebaliknya. Papah gapapa kalau harus kehilangan satu anak lagi.”
Aku berkata aku ga bisa milih, papah dan mamah orang tuaku. Tidak ada pilihan. Dan aku tidak akan memilih.
Aku sangat ingat papah melemparkan puntung rokoknya kepadaku. Aku tau rokoknya sudah mati.
Tapi perlakuannya itu yang membuatku sakit hati. Sangat sakit hati...
Bagaimana bisa orang yang bahkan tidak pernah memarahiku menjadi orang yang sejahat ini..
Dan akupun langsung pergi dan aku bilang aku kebanjarmasin. Tanpa jaket, tanpa sarung tangan, aku langsung ke banjarmasin. Dan lagi lagi aku menangis sepanjang jalan.

Ulang tahun terindah saat 2012 kemarin. Saat aku masuk rumah sakit dan saat itu papah, mamah, ayuli ada disisiku. Papah pagi pagi ke kamar rawat dan mengahabiskan waktu bersamaku pagi itu.
Saat ulang tahun di 2012 aku hanya berharap semoga papah dan mamah bisa rujuk lagi.
Tapi tahun 2013 ini aku tau itu mustahil, permintaanku hanya semoga papah, mamah, dan ayuli bahagia dan sehat selalu.

Pah, ici kangen papah..
Kangen sekali.
Bisakah mengelus rambutku lagi sampai aku tertidur?

Aku menyayangimu, selama lamanya. :*
 



Rabu, 29 Januari 2014

Miss you again again agaiiin ~

29 januari 2014.
Sore tadi ketemu papah .
Waktu papah antar uang mingguan ke kost.
Sangat disayangkan datangnya bareng tante ira.
Tapi waktu ketemu, papah kelihatannya bahagia.
Senang sekali melihatnya.
15 menit mungkin ngobrol ngobrol sama papah.
Tanya nilai, tanya kapan libur, kapan pulang....

Terus papah pulang.
Iya dia ke Banjarmasin cuma buat antar uang jajan anaknya biar bisa makan aja.

Kenapa ga pake atm?
Lebih mudah sebenarnya kalo pake atm.
Tapi ga mikir kygitu.
Kalo misal aku pake atm, nanti ga bisa lagi ketemu barang beberapa menit tiap minggu, ga bisa lagi cium tangannya, ga bisa lagi cium pipi kiri kanannya.

Setiap ketemu aku pasti menatap lebih lama, mendengarkan lebih seksama.
Seperti takut akan lupa
Takut suatu saat aku akan membenci
Ku harap tidak.

Aku hanya tidak ingin lupa.
Bagaimana dia berbicara, bagaimana dia bilang "baik-baik nak lah", bagaimana raut wajahnya, bagaimana dia tetap mencium pipi kiri kanan ku setiap pergi, dia yang tidak pernah bicara kasar padaku, tidak pernah menyebutku dengan sebutan anak nakal, bodoh, dan apapun itu kata kata kasar lainnya.

Merindukan serindu rindunya orang yang merindukan.
Hanya bisa mendoakan agar dia bahagia.

:'*

Minggu, 19 Januari 2014

Iloveyoupapah:* Always

Aku sangat senang menulis.
Saat menulis rasanya semua yang tidak bisa ku katakan bisa tersampaikan.
Entah kepada siapa.
Aku hanya ingin bercerita.
Melalui omongan?
Jangan berharap...
Aku kadang menemui orang yang bisa ku ajak bercerita,
Tapi aku takut.
Bukan takut dengan kemungkinan dia bercerita pada orang lain.
Aku takut aku akan menjadi beban.
Bercerita kepada tempat tak bertuan itu menyenangkan.
Aku hanya perlu sesuatu yang menjadi pendengar.
Terkadang, saat menulis aku memikirkan pacar, teman, sahabat, kakak, mamah ataupun papah .
Orang orang yang mengisi hidupku.
Merasakan sakit itu penting.
Agar saat kita menghadapi suatu masalah, kita bisa berpikir kembali...
"Bukannya kamu pernah merasakan sakit lebih dari ini? Seharusnya kamu kuat seharusnya kamu bisa ! Bersemangatlah ! "
Setidaknya itu pemikiranku.
Orang orang terdekat itu adalah sumber "kesakitan" yang paling utama.
Pacar?
Oh bukan. Walaubkadang menyakiti aku masih bisa mengatasinya.
Keluarga? Ya.
Jangan kaget..
Aku tidak pernah membenci keluargaku. Sedikitpun.
Aku menyayangi mereka. Teramat sayang. :)
Dari kecil aku sangat dekat dengan papah. Baru mamah kemudian kakakku.
Karena 'dekat', itu malah menyakitiku.
SD, SMP, SMA. Aku selalu menghadapi Ujian Nasional sendiri.
Waktu SD mamah ada kerjaan keluar kota. Padahal saat itu aku sangat memerlukannya. Papah sibuk bekerja saat itu. Dan aku tidak dekat dengan kakakku.
Waktu SMP nenek dan kakakku masuk rumah sakit. Lagi lagi aku sendirian. Mamah menunggui kakak dan nenek di RS. Sedangkan papah bolak balik BJM Kapuas mengurusi administrasi RS. Dia kerja keras buat membiayai pengobatan kakak dan nenek.
Saat SMA. Ini yang paling tidak bisa aku terima.
Orangtuaku pisah rumah.
Ya. Mereka pisah rumah disaat aku aku akan menghadapi UN. Aku masih ingat betul mamah mngangkut barang2nya saat H-2 UN.
Saat itu mamah bilang denganku "mamah pindah dulu lah, baik baik belajar. Mamah nanti bakalan sering nelpon".
Aku dipeluk mamah dan papah ada disebelahku.
Susah payah aku ngomong
"Ici masih boleh ketemu mamah kan? Masih bolehkan?"
Mamah bilang "Boleh, boleh sekali. Nanti mamah bakalan sering nelpon, sering jenguk"
Aku tau papah saat itu juga sedih.
Tapi itu sudah menjadi pilihan mereka berdua.
Aku bisa apa?
Apa aku boleh mempertahankan sesuatu yang akan malah menyakiti mereka? Bukannya itu malah memaksakan "hati" mereka?
Dan sekali lagi aku harus melalui UN tanpa mamah. Sedih sekali.



Aku sering bertanya dalam hati.
Papah sama mamah ga sayang aku lagi?
Ga sayang ayuli lagi?
Kenapa meninggalkan aku?
Boleh aku bilang jangan pergi? Jangan berpisah. Jangan meninggalkan aku. Aku mohon.. mohon sekali..

Seiring berjalannya waktu aku mencoba.. ya aku mencoba menerima bahwa aku tidak berhak memaksa sepasang manusia bertahan hanya atas nama “anak”.
Aku ingat pertama kali aku mengunjungi rumah mamah. Mamah sangat senang sekali.
Berusaha tersenyum adalah hal paling ku benci saat itu.
Ini bukan rumahku, disini ga ada kenangan papah mamah dan ayuli. Pikirku saat itu.

Ayahku.
Dia orang yang sangat ku sayang.
Dan tanpa dipungkiri, kehilangan seseorang yang telah mendampingi selama 24 tahun itu sangat menyakitkan.
Papah terlihat berantakan. Dia tidak cukuran, terlihat lesu, dan jelek sekali.
Selayaknya lelaki yang sudah menikah ia tentunya tahu apa itu “nafkah bathin”.
Aku berpikir, cepat atau lambat ia pasti akan mencari pendamping yang baru lagi.
Mungkin akan lebih cepat daripada mamah.
Karena dulu waktu SD papah pernah menduakan mamah, dengan menikah dengan seorang perempuan jalang.
Perempuan itu suatu ketika sakit dan papah membawanya kerumah.
Ya . kerumah dimana ada aku, mamah, dan ayuli.
Dia bermalam beberapa minggu dirumah. Dan mamah sangat bersabar saat itu.
Bodohnya aku yang belum mengerti apa itu “Perusak Hubungan”, sangat senang dengan kehadirannya. Karena dia memanjakanku.
Kuakui dulu mamah sangat suka marah marah dan tidak terlalu dekat denganku. Sewajarnya anak kecil, aku sangat tidak suka dimarahi.
Saat aku SMP aku baru sadar betapa bodohnya aku yang bahkan sempat menangis saat “Ibu tiri-ku” itu pergi. Bodoh sekali. Sangat bodoh.
Sampai akhirnya papah bercerai dengan wanita itu, mamah masih setia bersama papah. Mungkin itu karena kami. Anaknya yang masih kecil.
Kembali lagi...
Rasanya saat itu dua bulan atau 3 bulan menjelang pernikahan kakakku papah meminta aku dan kakakku untuk berbicara bertiga di ruang tamu.
“Papah ga mau bohong. Mungkin Yuli atau Dessy sudah tahu apa yang akan papah omongkan. Papah sudah menikah lagi dengan perempuan bernama Ira. Kemaren malam di banjarmasin.”
Aku memang tau .. ya aku ada mendengar sedikit dari mamah .. bahwa papah menikah lagi. Tapi aku tidak sesiap itu. Aku tidak siap mendengarnya langsung dari papahku.
Aku cuma bisa terdiam. Otakku terlalu penuh untuk mencerna semuanya.
Kakakku?
Dia mengamuk. Dia marah sekali. Sangat marah pada papahku.
Aku lupa apa yang dia katakan sampai mebuat papah marah dan memukulnya. Saat papah akan memukulnya lagi aku langsung memegang tangan papah.
“Jangan pukul ayuli lagi, pukul ici ja.”
Dan mungkin papah kembali kesadarannya. Dia pun pergi dan duduk di teras samping rumah sambil merokok.
Saat itu ayuli masih mengamuk. Dan mamah yang mungkin di telpon nenek langsung datang kerumah sambil menangis. Aku ingin menangis sekeras kerasnya saat itu.
Tapi bila aku menangis, apa jadinya kakakku?
Tidakkah dia tambah sedih.
Jika dia tidak kuat, akulah yang harus menguatkannya. Pikirku saat itu.
Aku langsung mengambil kunci motor dan cumabilang ingin ketempat teman.
Ya untuk kesekian kalinya aku menangis di sepanjang jalan.
Aku tidak pernah bercerita apapun pada Isti, Away, Icha, maupun Rudy.
Tapi pada saat itu aku langsung menelpon Rudy dan cuma bisa bilang “Papahku nikah lagi, papahku nikah lagi, papahku nikah lagi rud...”
Setelah itu aku menelpon iting dan mengabarkan bahwa papahku menikah lagi.
Maka dari itu Isti dan Rudy tuh sahabatku.  Orang yang pertama kali ku beritahu hal yang paling menyakitiku.
Setelah puas menangis aku pulang. Kakakku sudah dibawa mamah kerumah barunya. Yang aku tau kakakku sempat pingsan saat aku tidak dirumah. Mungkin karena terlalu shock.

Rasanya 3 minggu atau 2 minggu setelah kejadian itu kakakku baru pulang lagi kerumah papah.
Dengan perjanjian papah tidak boleh mengajak “wanita” itu kerumah.

Singkat cerita kakakku menikah. Dia tetap tinggal dirumah papah bersama suaminya.
Sedangkan papah dia lebih sering kerumah istrinya.
Aku? Aku menyibukkan diri dengan urusan kuliahku. Seperti melarikan diri memang.
Suatu ketika kakakku bertengkar lagi dengan ayahku. Aku lupa karena apa awalnya.
Yang aku ingat ayuli merasa papah sangat keterlaluan saat pernikahannya mengundang “wanita” itu untuk datang. Papah melanggar janjinya.
Dan ayuli memutuskan untuk pindah ketempat suaminya. Dan mulai saat itu hingga sekarang ayuli bermusuhan dengan papah.
Ya keluargaku hancur. Sedih sekali...
Saat dikabarkan hal itu aku cuma bisa bilang “Oh...”.

Dirumah hanya tinggal nenek dan mamah seringkali menjenguk nenek.
Aku? Saat itu aku terlalu sibuk dengan kegiatan organisasi. Terlalu sibuk untuk melupakan kenyataan.
Sampai akhirnya nenek pindah ikut dengan mamah karena terlalu kesepian sendiri dirumah.
Tapi masih seminggu 2x pulang kerumah papah untuk membantu membersihkan rumah.

Pernah aku pulang kerumah papah dan melihat rumahku itu halamannya di tumbuhi rumput dengan lebat, banyak tikus, kotor. Ya layaknya rumah tak berpenghuni.
Cepat atau lambat papah pasti akan pindah kerumah ini pikirku.
Dan benar.
Saat itu aku bermalam dirumahku itu, dan papah datang. Ia menanyakan kabarku, tentang kuliahku, dan pada akhirnya bilang “Papah sama tante Ira akan pindah kerumah ini, daripada rumah ini terbengkalai dan hancur sia-sia. 4 tahun masih dessy kuliah, 4 tahun itu waktu yang cukup lama. Mungkin 2 hari lagi papah pindah.”
Aku sangat ingin bilang jangan. Tapi mana bisa. Notabene ini adalah rumah papahku dan aku masih harus melanjutkan study ku.

Malam itu malam terakhir aku tidur “dirumahku”. Dirumah yang ada kenangan tentang papah, mamah, ayuli, dan aku. Aku berkeliling rumah sampai capek. Melihat sekeliling rumah, ruangan ruangan, letak benda benda, menghirup udaranya, menangis sejadinya.  Aku ingin mengingat sebanyak banyaknya. Mengingat bahwa tempat ini adalah “rumah”.

Singkat kata papah pindah kerumah. Dan aku jadi sangat jarang pulang kerumah itu.
Bagaimana bisa aku pulang ketempat yang ada”orang lain”.

Papah itu sangat memanjakanku, sangat sayang padaku.
Dia tidak pernah marah apalagi sampai memukulku.
Suatu ketika mamah mengangkut karpet yang memang kurasa itu hak milik mamah karena dia yang membelinya dan lagi dirumah mamah tidak ada apa apa.
Dan papah tidak mengetahuinya karena saat itu dia tidak dirumah.
Sorenya papah tahu bahwa karpet itu tidak ada. Dan dia marah padaku karena aku tidak bilang apa apa padanya.
Kuakui itu salahku. Tapi saat itu aku beranggapan yang angkut kan mamahku juga buat apa bilang, toh gak papa juga. Dan pada kenyataannya malah apa apa .
Itu pertama kalinya papah marah besar padaku.
Entah kenapa saat itu dia berkata “Kamu milih ikut papah atau mamah? Kalau kamu ikut papah kamu tidak boleh lagi ketempat mamah dan sebaliknya. Papah gapapa kalau harus kehilangan satu anak lagi.”
Aku berkata aku ga bisa milih, papah dan mamah orang tuaku. Tidak ada pilihan. Dan aku tidak akan memilih.
Aku sangat ingat papah melemparkan puntung rokoknya kepadaku. Aku tau rokoknya sudah mati.
Tapi perlakuannya itu yang membuatku sakit hati. Sangat sakit hati...
Bagaimana bisa orang yang bahkan tidak pernah memarahiku menjadi orang yang sejahat ini..
Dan akupun langsung pergi dan aku bilang aku kebanjarmasin. Tanpa jaket, tanpa sarung tangan, aku langsung ke banjarmasin. Dan lagi lagi aku menangis sepanjang jalan.

Ulang tahun terindah saat 2012 kemarin. Saat aku masuk rumah sakit dan saat itu papah, mamah, ayuli ada disisiku. Papah pagi pagi ke kamar rawat dan mengahabiskan waktu bersamaku pagi itu.
Saat ulang tahun di 2012 aku hanya berharap semoga papah dan mamah bisa rujuk lagi.
Tapi tahun 2013 ini aku tau itu mustahil, permintaanku hanya semoga papah, mamah, dan ayuli bahagia dan sehat selalu.

Pah, ici kangen papah..
Kangen sekali.
Bisakah mengelus rambutku lagi sampai aku tertidur?

Aku menyayangimu, selama lamanya. :*
 



 

@dcydsy Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Celebrity Gossip